Pengalaman Mengikuti Pelatihan Drone dan Sertifikasi Remote Pilot Bersama Terra Drone

Cerita pengalaman mengikuti pelatihan Drone dari Terra Drone Academy.

Pengalaman Mengikuti Pelatihan Drone dan Sertifikasi Remote Pilot Bersama Terra Drone

Selama menempuh pendidikan Geodesi di UGM, saya banyak menghabiskan waktu mempelajari teori dan pengolahan data fotogrametri, mulai dari menghitung persentase overlap dan sidelap, hingga merencanakan sebaran Ground Control Point (GCP) untuk akurasi peta. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari satu hal, menguasai pengolahan data di software saja belum cukup jika tidak diimbangi dengan pemahaman operasional penerbangan di lapangan.

Di dunia kerja profesional, menerbangkan wahana udara tanpa awak (UAV) bukan hanya soal menekan tombol 'take-off' dan membiarkan drone terbang mengikuti jalur terbang secara otomatis. Ada regulasi udara, manajemen risiko, dan tanggung jawab hukum yang mengikat. Kesadaran inilah yang mendorong saya untuk mengambil langkah lebih jauh. Kebetulan, Terra Drone Academy sedang membuka kelas di bulan Agustus 2026 kemarin, dan saya memutuskan untuk mendaftar.

Bukan Sekadar Belajar Menerbangkan

Banyak orang awam mengira pelatihan drone hanyalah kursus singkat tentang cara mengendalikan pesawat dengan remote. Kenyataannya, pelatihan dari Terra Drone Academy ini dirancang untuk mencetak seorang 'Pilot' dalam arti yang sesungguhnya. Kami dididik untuk menyadari bahwa saat drone mengudara, kami adalah bagian dari ekosistem aviasi yang berbagi ruang dengan pesawat komersial, helikopter, dan kendaraan udara lainnya.

Suasana kelas teori Terra Drone
Dokumentasi kelas teori

Pelatihan berlangsung secara hybrid, dengan materi teori dan praktik selama 6 hari. Menariknya, porsi terbesar dari pelatihan ini bukanlah praktik terbang di lapangan, melainkan kelas teori. Di sinilah saya berkesempatan bertukar pikiran dengan peserta lain yang merupakan sesama mahasiswa maupun profesional

Menyelami Aturan Udara dan Keselamatan

Sesi kelas membahas banyak hal yang jarang dibahas detail di bangku kuliah, terutama mengenai Civil Aviation Safety Regulation (CASR) Part 107 yang berlaku di Indonesia. Kami belajar membaca peta klasifikasi ruang udara (Airspace Classification), memahami zona larangan terbang (KKOP), hingga prosedur legal mengurus izin terbang ke AirNav dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Dari sekian banyak materi, ada tiga modul yang benar-benar mengubah mindset saya dari seorang 'operator' menjadi seorang 'Remote Pilot':

  1. Crew Resource Management (CRM): Kami diajarkan bagaimana mengelola komunikasi dan koordinasi tim di lapangan. Seorang Pilot In Command (PIC) tidak bekerja sendiri, melainkan harus bersinergi dengan Visual Observer (VO) agar misi berjalan aman.
  2. Prosedur Komunikasi Radio: Modul ini menunjukkan bahwa pentingnya komunikasi radio dengan standar aviasi (menggunakan phonetic alphabet seperti Alpha, Bravo, Charlie) ketika beroperasi di wilayah udara yang diawasi.
  3. Aeronautical Decision-Making (ADM): Ini adalah kemampuan paling krusial, bagaimana mengambil keputusan secara logis dan cepat dalam situasi genting, seperti saat cuaca tiba-tiba memburuk, ada intervensi burung, atau baterai mengalami voltase drop mendadak.

Kesimpulan dari sesi teori sangat jelas: Menerbangkan drone di level industri adalah 80% persiapan dan kepatuhan prosedur, sisanya baru eksekusi penerbangan itu sendiri.

Ujian Praktik

Puncak dari seluruh rangkaian pelatihan ini adalah Flight Review dan ujian praktik. Tiba di lapangan, kami tidak langsung menerbangkan unit. Prosedur dimulai dari briefing cuaca hingga pre-flight inspection yang sangat detail.

Ujian praktik terbang drone
Simulasi prosedur pre-flight inspection dan manuver penerbangan manual pada sesi ujian praktik lapangan.

Saat menerbangkan wahana, kami benar-benar dinilai untuk mengeksekusi manuver sesuai standar (seperti pola terbang kotak dan angka delapan) sekaligus merespons simulasi keadaan darurat (emergency procedures). Terbiasa menerbangkan drone dengan bantuan GPS mungkin terasa mudah, tetapi di ujian ini kami harus siap mengendalikan drone dalam mode manual. Konsentrasi tinggi mutlak diperlukan, satu langkah keselamatan yang terlewat bisa berakibat fatal atau tidak lulus ujian.

Langkah Selanjutnya

Alhamdulillah, seluruh proses yang menguras tenaga dan pikiran tersebut membuahkan hasil. Saya berhasil lulus ujian teori maupun praktik dan mendapatkan sertifikat resmi (UASTC-003) dari Terra Drone.

Di atas kertas, sertifikat kelulusan ini merupakan syarat administratif untuk mendaftarkan diri di SIDOPI-GO guna mendapatkan Remote Pilot Certificate (RPC) resmi dari negara. Lebih dari sekadar selembar kertas, sertifikasi ini memberi saya wawasan aviasi yang kuat, manajemen risiko yang matang, dan tentunya, bekal kompetensi yang sangat berharga untuk karier saya sebagai Surveyor dan Geodetic Engineer di masa depan.

Foto bersama pelatihan Terra Drone
Foto bersama peserta dan instruktur pelatihan Terra Drone di Kantor ASBIM, Sleman, Yogyakarta.